Cerita Sex Murid Di Perkosa Guru Sekolah

itil technology

Kumpulan Cerita Seks Dewasa Terbaru, Cerita Mesum ABG Hot, Cerita Ngentot Janda Seru, Cerita Panas Tante Girang, Cerita Sex Bergambar 2017 || Cerita Sex Murid Di Perkosa Guru Sekolah. Baca juga kisah menarik sebelumnya yang tak kalah seru untuk di baca : Menikmati Sempitnya Memek Bidan Desa.

Cerita Sex Murid Di Perkosa Guru Sekolah

Para pembaca setia, kali ini kami akan memaparkan kekejaman sekelompok guru di sebuah sekolah. Kebetulan salah seorang guru tersebut(maaf nama tidak dapat kami sebutkan) adalah paman salah satu anggota kami. Peristiwa tragis berikut adalah nyata dan benar-benar terjadi.
Cerita Sex Murid Di Perkosa Guru Sekolah
Cerita Sex Murid Di Perkosa Guru Sekolah

Seperti biasa pada pagi yang cerah Dini bersiap untuk berangkat sekolah. Dini S, gadis cantik bertubuh tinggi, sexy dan putih mulus. Gadis berkacamata ini cukup pintar dan rajin dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dia dikenal sebagai gadis nomor satu disekolahnya. Sifatnya yang tomboy memudahkan para teman prianya untuk menikmati tubuh Dini dengan memandangi payudara, paha, pinggul, ketiak dan pantatnya yang besar. Karena Dini sangat mudah bergaul dengan anak cowok. Tinggi Dini sekitar 168 cm, dan beratnya 55 kg.

Dini memang mempunyai tubuh yang paling sempurna di sekolahnya. Dengan ukuran bra 36B, ia kadang tidak memakai bra untuk menyangga susunya ketika bermain dengan teman-temannya. Para teman cowoknya yang beruntung saat itu, akan dapat menikmati pemandangan yang membuat jakun pria naik turun. Mereka berharap bisa menjamah kantong susu itu, dan meminum susunya. Meskipun tidak mengenakan bra, susu Dini yang hanya ditutupi kaos terlihat kencang dan tegak. Itu karena Dini rajin berolahraga, baik itu push-up, sit-up, jogging, basket, dll. Sehingga susunya pun sangat padat dan kenyal. Tapi yang paling menonjol adalah buah pantatnya yang besar dan luar biasa montok. Dini terpilih mempunyai pantat terindah oleh teman-teman cowoknya. Disamping itu Dini selalu memakai rok birunya yang ketat, pantatnyapun bergantian naik-turun ketika ia berjalan. Garis celana dalamnya tercetak jelas di belakang roknya, menandakan betapa padat dan montoknya pantatnya.

Selama proses belajar mengajar, para guru laki-laki yang mengajarnya sering memperhatikan Belahan payudara Dini yang kadang terlihat sedikit menyembul keluar, dan roknya yang tersingkap sehingga pahanya yang putih mulus terpampang jelas dimata gurunya. Dini kadang sengaja membiarkan beberapa bagian tubuhnya diamati. Dini mempunyai pinggul yang lebar, pantat yang sekal dan paha yang besar dan gempal menggairahkan. bahkan tidak jarang teman-teman cowok dikelasnya yang nekat masturbasi dikelas ketika sedang jam pelajaran, karena tidak tahan melihat paha atau pantat Dini didepannya. Dini sangat bersemangat disekolahnya. Ia aktif mengikuti kegiatan ekstra di sekolahnya seperti pramuka dan paskibraka. Dini sekolah di sebuah SMU swasta yang terkenal dikotanya, sekarang ia kelas 3.

*****

Pagi sekali sekitar pukul 06. 30 dia sudah menunggu angkutan kota menuju sekolahan nya, jarak sekolahnya tidak terlalu jauh sekitar 5 km. Apalagi nanti ada upacara. Tiba-tiba ketika Dini sedang asyik-asyiknya jalan sendiri sambil baca buku pelajaran, ada seorang naik mobil menghampirinya.

“Halo Dini kok jalan?”, tanya si pengendara mobil itu yang ternyata adalah Pak Bambang guru Fisikanya.

“Lho Bapak kok jam segini sudah berangkat?” tanya Dini spontan.

“Iya saya habis nginap di tempat saudara, takutnya telat. Kalo mo ke sekolah, ayo ikut Bapak saja” ajak Pak Bambang.

Karena Dini sudah kenal benar dengan yang namanya Pak Bambang. Akhirnya mau juga nebeng Pak Bambang. Tapi Dini nggak tahu disitulah awal bencana bagi Dini.

“Dik Dini nggak keberatan khan kalau kita mampir dulu ke rumah adik saya, soalnya saya baru ingat kalau buku laporan saya tertinggal di sana?” Pak Bambang membuat alasan.

“Iya Pak tapi cepetan yah, biar nggak telat”

Tiba-tiba Pak Bambang mempercepat kecepatan mobilnya dengan sangat tinggi dan arahnya ke rumah kosong di pedesaan yang jarang terjamah orang.

Sesampainya disitu Dini ditarik dengan paksa masuk ke dalam rumah kosong dan disitu sudah ada Pak Wahyu, Pak Joko yang merupakan wali kelas Dini yang sudah lama mengamati Dini dan nggak ketinggalan kepala sekolah Pak Budi dan wakil kepala sekolahnya yang namanya Pak Dono. Mereka semua nampaknya sudah menunggu semenjak tadi.

“Halo Dini, sudah ditunggu dari tadi lho?”, seru salah seorang dari mereka.

“Apa-apaan nih? Apa yang Bapak-Bapak lakukan disini?”, Dini mulai kebingungan.

Dini menjerit karena dia mulai digerayangi.

“Bangsat tua bangka jangan coba-coba sentuh saya”.

“Diam, kamu pengin lulus nggak? Berani melawan perintah gurumu yah”, kata Pak Budi selaku guru Matematika.

Dini mencoba melawan dengan memukuli dan menendang gurunya. Tapi Dini kalah setelah ia dihantam perutnya oleh Pak Joko guru olahraganya, dan di gampar pipinya berkali-kali sampai Dini kelenger hingga merah dan bibirnya berdarah. Dini meringis kesakitan.

“Nah sekarang emut dan hisep kontol saya, kontol Pak Andi, kontol Pak Joko dan Pak Dono yang kenceng nyedotnya, kalo nggak saya obrak-abrik rahim kamu biar nggak bisa punya anak Mau?”,

Karena ketakutan akhirnya Dini mengulum kontol para gurunya. Dini menyedot penis mereka satu-persatu dengan bibirnya yang merah dan mulutnya yang mungil, sambil tangannya menggenggam penis para Bapak guru sambil mengocok-ngocoknya.

“Nah gitu terus yang enak ayo jangan berhenti, telen pejuhnya biar kamu tambah pinter”, seru Pak Bambang.

“Mmmphh, slerrpp, mmhh” Dengan terpaksa Dini menghisap kontol-kontol mereka sampe mereka semua pada orgasme.

“Edan, nih cewek nyepongnya mantep banget Dini, lo pasti sudah sering nyepongin kontol temen-temen lo yah? haa, ha, ha, ha”.

Guru Dini satu persatu menyemburkan sperma mereka ke dalam mulut Dini, dan mengalir ke tenggorokannya. Walaupun Dini hampir muntah dia memaksakan untuk menelan pejuh kelima orang itu. Dia masih tak percaya dioral oleh gurunya sendiri. Wajah Dini mulai terlihat kelenger lagi, sepertinya ia mabuk sperma, merasakan mual pada perutnya.

Setelah mereka puas memperkosa mulut Dini ternyata mereka langsung menelanjangi Dini. Pak Dono memegang kedua tangan Dini, Pak Budi memelorotkan rok abu-abunya, Pak Joko merobek pakaian dan kutang Dini.

“Nih murid teteknya putih banget, gede lagi, putingnya coklat pasti manis nih Wahh, kenyal sekali, lembut banget Bapak-Bapak” Pak Joko mengomentari payudara Dini, sambil mulai meremas-remas payudara Dini.

Dalam sekejap Dini sudah dalam keadaan tanpa busana.

“Jangan Pak jangan, atau saya akan melapor ke polisi”, seru Dini sambil teriak.

“Ooo, coba saja nanti, sekarang sebaiknya kamu persiapkan diri kamu untuk menerima pelajaran khusus” Seru Pak Budi sambil menjambak rambut Dini.

Dini sekarang hanya mengenakan celana dalam putih saja.

Ketika Pak Budi hendak beraksi tiba-tiba Pak Bambang protes, “karena saya yang dapat perek ini maka saya duluan yang memperkosanya.”

Tanpa membuang waktu lagi kini diputarnya tubuh Dini menjadi tengkurap, kedua tangannya yang ditarik kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh kasur. Kedua tangan kasar Pak Bambang itu kini mengusap-usap bagian pantat Dini, dirasakan olehnya pantat Dini yang sekal. Sesekali tangannya menyabet pantat Dini dengan keras, bagai seorang Ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal “Plak, Plak.”.

“Wah sekal sekali pantat kamu Dini, kenyal, gila nih Don, paha murid kita satu ini gede amat. Putihnya ya ampun, banyak bulu-bulu halusnya lagi di pahanya” ujar Pak Bambang sambil terus mengusap-usap dan memijit-mijit pantat Dini sambil sesekali mencabuti bulu-bulu di paha Dini yang putih gempal itu.

Dini mengaduh kesakitan.

“Bakal mabuk nih kita nikmatin pantat segede gini, seperti bokong sapi aja.”

“Montoknya, ya ampun, gede, kenyal lagi” sambil memijat pantat Dini yang memerah karena tamparan tangan Pak Bambang.

Pak Dono lalu menjilati dan menggigiti bongkahan pantat si Dini.

“Aakhh, bangsat, keparat, jangan sentuh pantat gue”, Dini membentak mereka.

“Plakk” sebuah tamparan sangat keras ke pipi Dini.

“Diam kamu, pelacur pengin gue rontokin gigi putih loe”, Pak Dono balas membentak.

Dini hanya diam pasrah, sementara tangisannya mulai terdengar. Tangisnya terdengar semakin keras ketika tangan kanan Pak Bambang secara perlahan-lahan mengusap kaki Dini mulai dari betis naik terus kebagian paha lalu mengelus-elus paha mulus putih Dini dan akhirnya menyusup masuk kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya.

“Jangan paak, saya mohon, saya masih perawan pakk”, Dini teriak ketakutan.

Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Pak Bambang, yaitu jari tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dini agak menggeliat, dia mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Pak Bambang tadi langsung menusuk lobang kemaluan Dini.

“Egghhmm, oohh, shitt, shitt”, Dini menjerit badannya mengejang tatkala jari telunjuk Pak Bambang masuk kedalam liang kewanitaannya itu.

Badan Dini pun langsung menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan, ketika Pak Bambang memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dini. Nafas Dini terengah-engah sambil mengerang kesakitan.

Dengan tersenyum terus dikorek-koreknyalah lobang kemaluan Dini, sementara itu badan Dini menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan rintihan-rintihan yang keluar dari mulutnya itu Pak Bambang menciumi bibir vagina Dini sambil sesekali memasukkan lidahnya kedalam liang vagina Dini, kepala Pak Bambang menghilang di bawah selangkangan Dini sambil kedua tangannya dari bawah meremas -remas pantat Dini. Sementara Pak Dono meremas payudara kanan Dini, dan mulutnya mengulum payudara Dini satunya lagi.

“Pak Bambang, susu murid kesayanganmu ini gurih sekali, harum lagi, kualitas nomer satu”.

Pak Dono asyik menyantap payudara Dini, yang ranum padat dan kenyal sekali.

“Ehhmmpphh, mmpphh, ouughh, sakii..iit, paa..ak”.

Dini terus mengerang kesakitan pada kedua buah dadanya dan kenikmatan pada kemaluannya. Setelah beberapa menit lamanya, kemaluan Dinipun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Pak Bambang kemudian mencabut jarinya.

Melihat Dini yang meronta-ronta, Pak Bambang semakin bernafsu dan dia segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Dini yang masih perawan. Walaupun vagina Dini sudah basah oleh air liur Pak Bambang dan cairan vagina Dini yang keluar, namun Pak Bambang masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya, karena vagina Dini yang perawan masih sangat sempit. Dini hanya dapat menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga selama ini akan direnggut dengan paksa seperti itu oleh gurunya sendiri. Lalu dengan ngacengnya Pak Bambang memasukkan batang penisnya lagi.

“Auw aduh duh sshh, saakkii..iitt, pakk.. ammpuu..uunn”, terdengar suara dari mulut Dini yang terlihat kesakitan.

Dia mulai menangis sambil mendesah menikmati kontol Pak Bambang yang mengaduk-aduk liang peranakannya. Terlihat jelas raut wajah Dini yang menahan sakit luar biasa pada selangkangannya.

Dini sekarang lebih terdengar suara tertahan ketika penis disodok-sodokkan ke lubang memeknya.

“Huek, hek, hek aah oohh jangan, uh, duh, ampunn pakk”, ternyata Dini telah orgasme.

Sungguh mengasyikan melihat expresi Dini yang merem-merem sambil menggigit bibir bawahnya. Pak Bambang terus menggenjot memek Dini. Menit-menitpun berlalu dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Pak Bambang terus menggenjot tubuh Dini, Dinipun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Pak Bambang menggenjot tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan rintihan lemah, “Ahh, ahh, oouuhh”.

Lalu Pak Bambang memposisikan tubuh Dini menungging. Pantat Dini sekarang terlihat kokoh menantang, ditopang paha panjangnya yang putih dan tegak. Pak Bambang memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke vagina Dini hingga terbenam seluruhnya, lalu dia menariknya lagi dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu ke dalam rongga vagina Dini hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak disertai teriakan panjang.

“Aaahh, Stoop, kumohon jangan”.

Kedua tangan Pak Bambang memegang pantat Dini, sedangkan pinggulnya bergoyang-goyang berirama. Sesekali tangan Pak Bambang mengelus-elus pantat Dini dan sesekali meremas payudara Dini dari belakang.

Beberapa menit kemudian, Pak Bambang kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian dia menarik kedua tangan Dini. Jadi sekarang persis seperti menunggangi kuda lumping, kedua tangan Dini dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama sodokan penis Pak Bambang. Karena tidak disangga kedua tangannya lagi, kini buah dada Dini tergencet di atas tikar tipis sebagai alas Dini disetubuhi. Sedangkan wajah Dini menghadap keatas dengan mulut menganga mengerang kesakitan. Melihat keadaan Dini seperti itu, Pak Bambang semakin bersemangat mengebor liang vagina Dini.

“Anjingg, bangsaatt, perekk, loo, Dini ngentoott, gue entotin loo”.

Pak Bambang merancau tak jelas. Dan akhirnya Pak Bambang pun berejakulasi di lobang kemaluan Dini, kemaluannya menyemburkan cairan kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dini.

“Aa, aakkhh, oohh”, sambil mengejan Pak Bambang melolong panjang bak serigala, tubuhnya mengeras dengan kepala menengadah keatas.

“Aoohh, oouuhh, bangsaatt, shitt, shitt”.

Dini mengumpat sambil mendesah, tubuhnya mengejang merasakan air mani Pak Bambang membanjiri rahimnya. Puas sudah dia menyetubuhi Dini, rasa puasnya berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas dalam menyetubuhi Dini, puas dalam merobek keperawanan Dini dan puas dalam memberi pelajaran kepada gadis nomor satu di sekolah itu.

Dini menyambutnya dengan mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa gurunya telah berejakulasi karena dirasakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu memenuhi lobang kemaluan Dini sampai sampai meluber keluar membasahi paha dan sprei kasur. Dini yang menyadari itu semua, mulai menangis namun kini tubuhnya sudah lemah sekali.

Setelah itu Pak Andi maju untuk mengambil giliran. Kali ini Pak Andi mengangkat kedua kaki Dini ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Dini. Pak Andi masih mengalami kesulitan saat memasukkan penisnya, meskipun vagina Dini kini sudah licin oleh sperma Pak Bambang dan juga cairan vagina Dini. Vagina Dini masih sangat sempit. Kembali vagina Dini diperkosa secara brutal oleh Pak Andi, dan Dini lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan.

“Bangsatt, akkhh, bajingaann, sudahh, sudahh, keparaatt”

Namun kali ini Dini tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat gurunya semakin bernafsu saja.

Sementara itu Pak Andi terus memompa vagina Dini dengan cepat sambil satu tangannya meremas-remas payudara Dini yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Dini.

“Ooohh, makan nih pejuh gue”.

Dini hanya dapat meringis kesakitan, tubuhnya telentang tidak berdaya di lantai. Walaupun tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Dini dan sebagian sperma Pak Andi mengalir lagi keluar dari vaginanya.

“Hmmpphh, hhmmpp, oohhkk, oughh”, Dini menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Pak Budi mulai menanamkan batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dini.

Matanya terbelalak menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Pak Budi terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit selain meskipun sudah dimasuki dua penis tadi, usia Dini juga masih tergolong muda sehingga kemaluannya masih sangat sempit.

Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Pak Budi berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dini. Tubuh Dini berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun terus memohon kepada Pak Budi agar mau melepaskannya.

“Ahh, rasain loe, akhirnya aku bisa ngerasain jepitan memek kamu sayang”, bisiknya ketelinga Dini.

“Oouuhh, Paakk, saakiitt, Paak, ampuunn”, rintih Dini dengan suara yang megap-megap.

Jelas Pak Budi tidak perduli. Dia malahan langsung menggenjot tubuhnya memompakan batang kemaluannya keluar masuk lobang kemaluan Dini.

“Aakkhh, oohh, oouuhh, oohhggh”, Dini merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot Oleh Pak Budi, badannyapun semakin menggeliat-geliat.

Otot-otot dinding vaginanya kuat mengurut-urut batang kemaluan Pak Budi yang tertanam didalamnya, karenanya Pak Budi merasa semakin nikmat. Sambil memukuli perut Dini dengan tangannya, berharap agar vagina Dini mencengkram penisnya dengan lebih erat karena lobang vagina Dini semakin mengendur.

Tiba-tiba Pak Budi mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Dini. Pak Budi mendempetkan kedua buah payudara Dini yang kecil dengan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Dini, sampai akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Dini. Dini gelagapan karena sperma Pak Budi mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Pak Budi masih sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan penisnya ke payudara Dini dan ke puting susunya. Kemudian Pak Budi menampar payudara Dini yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Dini berwarna kemerahan dan membuat Dini merasa perih dan kesakitan.

Selanjutnya dua orang, Pak Joko dan Pak Dono maju. Mereka kini menyuruh Dini untuk mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Pak Joko berlutut di belakang pantat Dini dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Dini yang sangat sempit.

“Gila nih cewek, bokongnya montok banget kenyal lagi, lihat nih Tin paha si Dini. Gempal, gede, Putih banget. Bener kata Pak Bambang” Kata Pak Joko.

“Ampuunn, jangan sodomi saya paakk, saya mohoonn”.

Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Dini mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Pak Dono yang segera mendorong wajah Dini ke arah penisnya. Kini Dini dipaksa mengulum dan menjilat penis Pak Dono. Penis Pak Dono yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Dini.

Sementara itu, Pak Joko masih berusaha membesarkan lubang anus Dini dengan cara menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Dini.

“Akkhh, oohh, aahh, sshh, perihh, pakk”

Sesekali Pak Joko menampar pantat Dini dengan keras, sehingga Dini merasakan pantatnya panas.

“Gila nih perek, bokongnya gede tapi lobangnya kecil banget” Kemudian Pak Joko juga berusaha melicinkan lubang anus Dini dengan cara menjilatinya.

Dini merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Pak Joko menjilati lubang anusnya. Ia berada dibelakang Dini dengan posisi menghadap punggung Dini.

Ketika lobang dubur Dini agak terbuka, Pak Joko menuang sebotol minyak goreng kedalam lobang dubur Dini. Setelah itu kembali direntangkannya kedua kaki Dini selebar bahu, dan, “Aaakkhh.”, Dini melolong panjang, badannya mengejang dan terangkat dari tempat tidur disaat Pak Joko menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dini. Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak susah payah kembali Pak Joko berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam lobang anus Dini, meskipun baru masuk setengahnya. Setelah itu tubuh Dini kembali disodok-sodok, kedua tangan Pak Joko meraih payudara Dini serta meremas-remasnya.

Tidak lama kemudian Dini kembali menjerit kesakitan. Rupanya anusnya sudah jebol oleh penis Pak Joko yang berhasil masuk seluruhnya dengan paksa. Kini Pak Joko memperkosa anus Dini perlahan-lahan, karena lubang anus Dini masih sangat sempit dan kering. Ketika Pak Joko menarik penisnya, mulut dubur Dini ikut tertarik sehingga terlihat monyong keluar. Lalu Pak Joko menyodokkan lagi penisnya, sehingga kini dubur pantat Dini mengempot.

“Aaakkhh, ouughh, sakii..iitt, pak, periihh, akuu, nggakk.. kuatt, pakk, periihh, sakiitt”.

Dini menjerit keras sekali, ia baru saja merasakan rasa sakit yang teramat-sangat yang pernah dirasakannya. Pak Joko merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Dini. Pak Joko merasa penisnya lecet didalam pantat Dini. Kenikmatan yang terus-menerus dirasakannya ketika menunggangi pantat Dini. Tak terbayang bagaimana wajah orang tua Dini, jika menyaksikan persetubuhan yang tidak manusiawi yang dialami putrinya. Anak perempuan yang mereka rawat dengan kasih sayang hingga remaja dan dibiayai, sekarang tubuhnya sedang menungging telanjang bulat, pantatnya disodomi oleh gurunya sendiri.

Seperempat jam lamanya Pak Joko menyodomi Dini, waktu yang lama bagi Dini yang semakin tersiksa itu.

“Eegghh, aakkhh, oohh”.

Dengan mata merem-melek serta tubuh tersodok-sodok, Dini merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya diremas-remas oleh kedua tangan Pak Joko. Saat Dini berteriak, kembali Pak Dono mendorong penisnya ke dalam mulut Dini, sehingga kini Dini hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis Pak Dono. Tubuh Dini terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.

Kedua payudara Dini yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya diremas-remas dengan brutal oleh Pak Joko. Dini berteriak-teriak kesakitan.

“Aakkhh, oohh, oouhh, aammp, uunn, pakk”

Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Pak Joko dan Pak Dono mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Pak Joko yang sudah tidak tahan karena seret dan panasnya dubur Dini menyemburkan spermanya di dalam anus Dini, Dini merasakan perih pada rongga duburnya yang lecet tersiram sperma Pak Joko. Dan Pak Dono menyemburkan spermanya di dalam mulut Dini. Dini terpaksa menelan semua sperma Pak Dono agar dia dapat tetap bernafas. Dini hampir muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Pak Dono masih berada di dalam mulutnya. Dini membiarkan saja penis Pak Dono berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Pak Dono menarik keluar penisnya dari mulut Dini. Sebagian sisi sperma Pak Dono yang tidak tertelan meluber keluar bercampur dengan air liur Dini.

Kemudian Pak Dono memaksa Dini untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara menjilatinya. Pak Joko juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Dini dan sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Dini, mencoba untuk merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Dini dapat merasakan kehangatan sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya. Perih yang luar biasa dirasakan lobang pantat Dini yang lecet-lecet.

Setelah Pak Joko mencabut penisnya dari anus Dini, lalu Pak Dion mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Dini mendekati dan mengangkat tubuh Dini lalu memposisikan mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Pak Dion kemudian mengarahkan penisnya ke vagina Dini, dan kemudian memaksa Dini untuk duduk di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Pak Dion langsung masuk ke dalam vagina Dini.

“Aohh, oouuhh, sakii..itt, udahh, Paak, ngiluu paakk”, Dini mengerang kesakitan.

Setelah itu, Dini dipaksa bergerak naik turun, sementara Pak Dion meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Dini. Sesekali Pak Dion menyuruh Dini untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Pak Dion dapat merasakan vagina Dini berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Dini yang sudah basah.

Pak Dion masih belum puas. Dia memiringkan tubuh Dini lalu mengangkat kaki kanan Dini ke bahunya dan mulai menyodok-nyodokan penisnya di liang kemaluan Dini. Dini menahan sakit bercampur nikmat itu dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, wajahnya yang sudah penuh air mata dan memar bekas tamparan itu tidak membuat iba gurunya itu. Pak Dion tanpa kenal ampun berkali-kali menghujamkan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Temannya yang gendut itu juga menjilati payudara Dini yang bergoyang-goyang akibat irama pinggul Pak Dion, lidahnya bermain-main di ujung putingnya yang sudah sangat keras. Pak Dion tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Dini diperkosa oleh para rekannya, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Dini. Dini kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Pak Gatot yang mengambil giliran untuk memperkosa Dini. Dia menarik Dini dari pangkuan Pak Dion, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Dini disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Pak Gatot. Kemudian secara kasar Pak Gatot menarik pantat Dini turun, sehingga vagina Dini langsung terhunjam oleh penis Pak Gatot yang sudah berdiri keras.

“Akkhh, aakkhh, oogghh,”. teriakan memilukan keluar dari mulut Dini.

Penis Pak Gatot, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya meskipun tubuhnya pendek yang memasuki vagina Dini, masuk semuanya ke dalam vagina Dini, membuat Dini kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Dini merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Pak Gatot. Pak Gatot memaksa Dini untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Pak Gatot dapat bergerak keluar masuk vagina Dini dengan leluasa. Kedua Payudara Dini besar menggantung bebas, naik turun seirama tubuhnya.

Kemudian Pak Gatot menjepit kedua puting susu Dini dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Dini berhimpit dengan dada Pak Gatot. Pak Gatot benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Dini yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Pak Joko melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung dan bongkahan pantat Dini beberapa kali.

“Akkhh, aakhh, damn, shitt”, Dini kembali merasakan perih luar biasa pada punggung, pantat, dan pahanya.

Cambukan Pak Joko sangat keras sehingga membuat garis lurus merah di kulit punggung pantat, dan paha Dini.

Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Dini tetap merasakan perih dan panas di punggung dan pantatnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Dini terhenti, Pak Gatot marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Dini dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Dini menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks. Pak Gatot mencengkram pinggul Dini, lalu membuat goyangan memutar sehingga ia merasakan sensasi luar biasa dengan goyangan mengebor Dini itu.

“Oohh, sshh, shh”, Pak Gatot mendesah kenikmatan, sambil merasakan pantat Dini yang empuk basah menduduki selangkanganya.

Ketika Pak Gatot hampir mencapai klimaks, dia memeluk Dini dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Dini tidur di bawah dan Pak Gatot di atasnya. Sambil mencium bibir Dini dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Dini, Pak Gatot terus menggenjot vagina Dini. Tidak lama kemudian gerakan Pak Gatot terhenti. Pak Gatot mencabut penisnya keluar dari vagina Dini dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Dini. Kemudian dia menarik tangan kanan Dini dan memaksa Dini untuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu Pak Heru, guru kimianya maju mengambil giliran memperkosa vagina Dini. Ia mengangkat kedua kaki Dini dan menyandarkannya diatas bahunya, Pak Heru menempelkan kepala penisnya di mulut vagina Dini. Dengan kasar Pak Heru menyodokkan Penisnya dengan keras kedalam liang peranakan Dini. Lalu ia mulai menggenjotnya. Hampir sepuluh menit Pak Heru memompa vagina Dini dengan kasar, membuat vagina Dini semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Pak Heru mencabut penisnya dari vagina Dini dan memaksa Dini untuk membuka mulutnya lebar-lebar untuk menampung spermanya. Setelah itu, Pak Heru memaksa Dini untuk berkumur dengan spermanya dan kemudian menelannya. Semua orang disitu tertawa senang melihat itu, sementara Dini menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Dini terlihat mBLenger oleh sperma milik Pak Heru.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh para Guru Dini terhadap tubuh Dini. Kali ini Dini tidak kuat lagi menahan orgasmenya yang ke 20, dan dia mengalami orgasme hebat, namun tidak sehebat yang pertama. Cairan Vaginanya sudah mulai habis. Rongga vaginanya mulai mengering, karena cairan vaginanya sudah hampir habis dkeluarkan. Dini merasakan sakit luar biasa pada rongga vaginanya. Ditambah penis para gurunya yang tak henti-hentinya menyodok dan menggesek rongga vaginanya yang kering, sehingga membuat rongga vaginanya lecet dan sobek. Hanya darah dari luka di rongga vaginanya lah yang membasahi daging kemaluannya dan burung yang tengah bersarang didalamnya.

Setelah delapan gurunya selesai memperkosa dirinya untuk kesekian kalinya, Dini akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Dini telah diperkosa secara habis-habisan selama empat jam lebih oleh gurunya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Pak Bambang.

lebih-lebih ketika posisi kedua tangan Dini yang terikat digantung keatas. Pak Andi menjilati dan menciumi ketik Dini.

“Mmuuahh, ketek lo montok banget sih, rasanya asin tapi gurih dan baunya haruumm”

Liur Pak Andi membasahi ketiak Dini. Dini kembali disetubuhi dari 2 arah tentu saja lubang anus dan vaginanya. Dini kini hanya bisa menggigit bibir sambil kakinya menendang-nendang ke segala arah, sambil sesekali seperti orang mengejan.

“Ouughh, arrkhh, ouhh, udah paa..ak perih, sakiitt, ouughh, aa, akh”

Dini terus berontak seperti orang kesetanan. Karena dubur Dini mulai mengering, Pak Andi kembali membasahi dubur Dini dan batang penisnya sendiri dengan minyak goreng agar licin. Pak Andi menyodomi Dini untuk ke 4 kalinya. Dilanjutkan dengan Pak Joko lagi, yang senang sekali main sodomi. Apalagi dapat pantat semontok pantat Dini, ia semakin bernafsu menghancurkan anus Dini (Anal Destruction).

Kemudian mereka kembali menelentangkan Dini di lantai, lalu mereka maju semua mencari bagian-bagian tubuh Dini yang bisa di gunakan untuk memuaskan penis mereka. Pak Joko memasukkan penisnya ke dalam mulut Dini, dan memaksa mengulumnya. Pak Bambang menyarangkan Penisnya ke dalam memek Dini yang berdarah-darah. Pak Andi melesakkan penisnya yang super besar dan panjang itu ke dalam lobang pantat Dini yang sudah hancur. Pak Gatot menjepitkan penisnya di antara belahan payudara Dini, kemudian menggosok-gosoknya sambil memelintir dan menarik puting susu Dini yang coklat mungil dan membengkak. Pak Dono menaruh penisnya di tengah-tengah ketiak kanan Dini yang gemuk putih dengan beberapa helai rambutnya, lalu menjepitnya dan memaju mundurkan penisnya di dalam jepitan ketiak Dini. Sedangkan Pak Budi melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Dono dengan Menjepitkan penisnya ke ketiak Dini yang sebelah kiri. Sedangkan Pak Heru Meraih tangan kanan Dini, kemudian memaksa tangannya mencengkram penisnya lalu membantu tangan Dini untuk mengocoknya. Yang terakhir yaitu Pak Dion, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Heru dengan tangan Kiri Dini.

Akhirnya Dini yang sudah tidak kuatpun pingsan, dengan Vagina dan anusnya yang dalam keadaan rusak parah, dan terus mengeluarkan darah, sisa sperma, dan sisa cairan vagina dan duburnya. Kedua payudaranya bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susunya yang coklat mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana. Sudah puas para guru tersebut, mereka membersihkan diri lalu meninggalkan tubuh Dini yang bugil dan berlepotan darah dan sperma dalam keadaan pingsan.

******

Setelah para guru Dini pergi, muncullah beberapa siswa pria di sekolah Dini yang diam-diam mengikuti gurunya. Ketika menemui tubuh Dini yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Mereka mulai memperkosa tubuh Dini yang masih tidak sadar. Satu diantara mereka menelepon teman-temannya di sekolah. Sekitar 20 menit kemudian datanglah sekitar 40 siswa laki-laki di sekolah Dini. Lalu mereka mulai menikmati tubuh Dini secara bergantian ataupun bersama-sama. Ketika sadar, Dini hanya bisa teriak dan memohon, ia tidak punya cukup tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menyaksikan dirinya diperkosa oleh teman-temannya sendiri. Teman-temannya yang sudah lama bermimpi bisa menyetubuhi Dini, akhirnya tercapai juga.

Setelah puas semua, mereka meninggalkan tubuh Dini yang pingsan lagi untuk kesekian kalinya itu. Liang vaginanya sudah menganga sangat lebar, merah membengkak, dan sudah tidak berbentuk lagi. Dengan darah segar yang terus mengalir dari lobang vaginanya. Lobang duburnya pun sudah sangat lebar dengan keadaan rusak parah dengan bentuk berantakan, dengan darah, sperma dan cairan kekuningan yang keluar terus menerus dari liang duburnya. Dan dari sela-sela bibirnya mengalir sperma dan air liur dari dalam mulutnya. Wajahnya tetap cantik dengan masih mengenakan kacamata selama ia diperkosa. Tetapi menampakkan penderitaan yang begitu berat.

Karena merasa kasihan, beberapa temannya mengantarkan Dini ke kostnya. Dini selalu merasakan perih dan rasa sakit yang teramat sangat ketika ia harus buang air kecil. Karena liang pengeluaran air seninya masih bengkak dan agak tertutup lipatan daging mulut vaginanya yang sobek. Dan juga ketika buang air besar, karena lobang duburnya membuka sangat lebar dan belum mau menutup kembali. Jadi setiap saat, anusnya mengeluarkan kotorannya tanpa Dini sadari.

******

Setelah peristiwa tersebut, Dini terus mengunci diri dalam kamar dan diam membisu ketika ditanyai oleh teman ataupun keluarganya. Beberapa hari kemudian Dini pulang ke asalnya, dan tinggal dengan ortunya. Dini mengalami shock berat, dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sementara para guru yang memperkosa Dini, bebas beraktivitas karena Dini tidak berani memberi kesaksian. Dini terperangkap dalam trauma perkosaan itu untuk selama hidupnya. Sedangkan para guru yang memperkosanya masih sibuk mencari mangsa siswinya yang lain.

itil review